Kamis, 06 Oktober 2011

MEMINDAHKAN PASIEN DARI TEMPAT TIDUR KE BRANGKAR


  1. Pengertian:
Adalah memindahkan pasien yang mengalami ketidakmampuan, keterbatasan, tidak boleh melakkukan sendiri,  atau tidak sadar dari tempat tidur ke brankar yang dilakukan oleh dua atau tiga orang perawat.
  1. Tujuan:
memindahkan pasien antar ruangan untuk tujuan tertentu (misalnya pemeriksaan diagnostik, pindah ruangan, dll.)
  1. Alat dan Bahan :
    1. Brankar
    2. Bantal bila perlu
  1. Prosedur :
    1. Ikuti protokol standar
    2. Atur brankar dalam posisi terkunci dengan sudut 90 derajat terhadap tempat tidur
    3. Dua atau tiga orang perawat menghadap ke tempat tidur/pasien
    4. Silangkan tangan pasien ke depan dada
    5. Tekuk lutut anda , kemudian masukkan tangan anda ke bawah tubuh pasien
    6. Perawat pertama meletakkan tangan dibawah leher/bahu dan bawah pinggang, perawat kedua meletakkan tangan di bawah pinggang dan panggul pasien, sedangkan perawat ketiga  meletakkan tangan dibawah pinggul dan kaki.
    7. Pada hitungan ketiga, angkat pasien bersama-sama dan pindahkan ke brankar
    8. Atur posisi pasien, dan pasang pengaman.
    9. Lengkapi akhir protocol

Melakukan Asuhan Keperawatan (Askep) merupakan aspek legal bagi seorang perawat walaupun format model asuhan keperawatan di berbagai rumah sakit berbeda-beda. Seorang perawat Profesional di dorong untuk dapat memberikan Pelayanan Kesehatan seoptimal mungkin, memberikan informasi secara benar dengan memperhatikan aspek legal etik yang berlaku. Metode perawatan yang baik dan benar merupakan salah satu aspek yang dapat menentukan kualitas “asuhan keperawatan” (askep) yang diberikan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan brand kita sebagai perawat profesional. Pemberian Asuhan keperawatan pada tingkat anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia hingga bagaimana kita menerapkan manajemen asuhan keperawatan secara tepat dan ilmiah diharapkan mampu meningkatkan kompetensi perawat khususnya di indonesia
PROTAP : MEMINDAHKAN PASIEN KE KURSI
A. Pengertian:
Suatu kegiatan yang dilakuan pada klien dengan kelemahan kemampuan fungsional untuk berpindah dari tempat tidur ke kursi.

B. Tujuan:
1. Melatih otot skelet untuk mencegah kontraktur atau sindro disuse
2. Memberikan kenyamanan
3. Mempertahankan kontrol diri pasien
4. Memungkinkan pasien untuk bersosialisasi
5. Memudahkan perawat yang akan mengganti seprei (pada klien yang toleransi dengan kegiatan ini)
6. Memberikan aktifitas pertama (latihan pertama) pada klien yang tirah baring
7. Memindahkan pasien untuk pemeriksaan diagnostik.

C. Langkah:
1. Ikuti protokol standar
2. Bantu klien ke posisi duduk di tepi tempat tidur. Buat posisi kursi pada sudut 45 derajat terhadap tempat tidur. Jika menggunakan kursi roda, yakinkan bahwa kurisi ini dalam posisi terkunci
3. Pasang sabuk pemindahan pila perlu, sesuai kebijakan lembaga
4. Yakinkan bahwa klien menggunakan sepatu yang satabil dan anti slip
5. Regangkan kedua kaki anda
6. Fleksikan panggul dan lutut anda, sejajarkan lutut anda dengan klien
7. Pegang sabuk pemindahan dari bawah atau gapai melalui aksila klien dan tempatkan tangan pada skapula klien
8. Angkat klien sampai berdiri pada hitungan 3 sambil meluruskan panggul andan dan kaki, pertahankan lutut agak fleksi
9. Pertahankan stabilitas kaki yang lemah atau sejajarkan dengan lutut anda
10. Berporos pada kaki yang lebih jauh dari kursi, pindahkan klien secara langsung ke depan kursi
11. Instruksikan klien untuk menggunakan penyangga tangan pada kursi untuk menyokong
12. Fleksikan panggul anda dan lutut saat menurunkan klien ke kursi
13. Kaji klien untuk kesejajarn yang tepat
14. Stabilkan tungkai dengan slimut mandi
15. Ucapkan terimakasih atas upaya klien dan puji klien untuk kemajuan dan penampilannya
16. Lengkapi akhir protokol

PROSEDUR TETAP MEMINDAHKAN PASIEN KE AMBULANS
Pada saat ambulans datang anda harus mampu menjangkau pasien sakit atau cedera tanpa kesulitan, memeriksa kondisinya, melakukan prosedur penanganan emergensi di tempat dia terbaring, dan kemudian memindahannya ke ambulans. Pada beberapa kasus tertentu, misalnya pada keadaan lokasi yang berbahaya atau pasien yang memerlukan prioritas tinggi maka proses pemindahan pasien harus didahulukan sebelum menyelesaikan proses pemeriksaan dan penanganan emergensi diselesaikan. Jika dicurigai adanya cedera spinal, kepala harus distabilkan secara manual dan penyangga leher (cervical collar) harus dipasang dan pasien harus diimobilisasi di atas spinal board.
Pemindahan pasien ke ambulans dilakukan dalam 4 tahap berikut
1. Pemilihan alat yang digunakan untuk mengusung pasien.
2. Stabilisasi pasien untuk dipindahkan
3. Memindahan pasien ke ambulans
4. Memasukkan pasien ke dalam ambulans
Usungan ambulans beroda (wheeled ambulance stretcher) adalah alat yang paling banyak digunakan untuk memindahkan pasien ke ambulans.
Stabilisasi merujuk pada urutan tindakan yang dibutuhkan untuk mempersiapkan pasien sebelum dipindahkan. Pasien sakit atau cedera harus distabilkan agar kondisinya tidak memburuk. Perawatan luka dan cedera lain yang diperlukan harus segera diselesaikan, benda yang menusuk harus difiksasi, dan seluruh balut serta bidai harus diperiksa sebelum pasien diletakkan di alat pengangkut pasien.
Jangan menghabiskan banyak waktu untuk merawat pasien dengan cedera yang sangat buruk atau korban yang telah meninggal. Pada prinsipnya, kapanpun seorang pasien dikategorikan dalam prioritas tinggi, segera transpor dengan cepat. Penyelimutan pasien membantu menjaga suhu tubuh, mencegah paparan cuaca, dan menjaga privasi. Alat angkut (carrying device) pasien harus memiliki tiga tali pengikat untuk menjaga posisi pasien tetap aman. Yang pertama diletakkan setinggi dada, yang kedua setinggi pinggang atau panggul, dan yang ketiga setinggi tungkai. Kadang-kadang digunakan empat tali pengikat di mana dua tali disilangkan di dada.
Jika pasien Anda tidak mungkin diangkut dengan tandu misalnya pada penggunaan spinal board dan hanya bisa diletakkan di atas tandu/usungan ambulans (ambulance stretcher), maka disyaratkan untuk menggunakan tali kekang yang dapat mencegah pasien tergelincir ke depan jika ambulans berhenti mendadak.

DATA PENYAKIT, Deskripsi
Trakea/bronkus atau saluran bronkial, saluran udara utama yang mengarah ke paru-paru dapat pecah atau robek . Robekan juga dapat terjadi pada lapisan jaringan pipa udara. Cedera ini dapat disebabkan oleh:
* Infeksi
* Luka (ulcerations) karena benda asing
* Trauma, seperti luka tembak atau kecelakaan mobil

Cedera pada trakea atau bronkus juga mungkin terjadi selama prosedur medis (misalnya, bronkoskopi serat-optik dan penempatan saluran napas). Namun, kejadian ini sangat jarang terjadi.

Gejala
Gejala dapat berupa:
* Batuk darah
* Gelembung udara yang dapat dirasakan di bawah kulit dada, leher, dan lengan
* Kesulitan bernapas

Pengobatan
Orang-orang yang memiliki trauma perlu diobati. Cedera pada trakea dirawat dengan operasi. Sedangkan cedera pada bronkus yang lebih kecil kadang-kadang dapat diobati tanpa operasi.

Bagi pasien yang menghirup benda asing ke dalam saluran pernafasan, kaku atau bronkoskopi serat-optik dapat digunakan untuk mengambil objek.

Antibiotik digunakan pada pasien dengan infeksi di bagian paru-paru di sekitar cedera.

Penyakit asma atau mengi atau bengek memiliki nama ilmiah Asthma Bronchiale.
Definisi asthma bronchiale harus mencakup 3 komponen yaitu:
  1. Inflamasi (peradangan) kronis pada jalan nafas
  2. Kepekaan yang tinggi pada saluran bronchial
  3. Obstruksi (pembuntuan) jalan nafas yang bersifat reversibel
Dengan batasan atau definisi asthma di atas kita akan mudah memahami patofisiologi dan menentukan diagnosa asthma.





Gambar: saluran napas bagian bawah
Inflamasi pada bronkus dan bronkiolus
Pada keadaan normal bronkus memiliki beberapa komponen:
  1. Otot-otot polos bronkus yang bisa menyempitkan saluran napas (bronkokonstriksi) dan melebarkannya (bronkodilatasi)
  2. Sel-sel epitel yang bersilia pada permukaan bronkus. Silia bisa bergerak-gerak untuk menyaring udara. Ketika ada banyak kotoran atau debu terjadilah reflex batuk.
  3. Kelenjar bronchial yang dapat mengeluarkan mucus atau cairan

 

Pada saat serangan asthma, terjadilah inflamasi (peradangan) pada bronkus dan bronkiolus. Berikut patofisiologi inflamasi asthma:
  1. Otot-otot bronkus menyempit (vasokonstriksi) sehingga pada auskultasi (pemeriksaan dengan stetoskop) terdengar bunyi wheezing (yaitu ngik-ngik) serta ekspirasi memanjang
  2. Terjadi pembengkakan (edema) mukosa bronkus sehingga penderita merasa sesak. Zat-zat radang seperti histamin, leukotrien, serotonin banyak ditemukan di daerah edema
  3. Kelenjar bronchial banyak mengeluarkan secret cairan mukosa sehingga lendir dan dahak banyak dihasilkan oleh penderita asma
  4. Banyaknya lendir menyulitkan pergerakan silia sehingga menyebabkan batuk  
 
Meningkatnya Kepekaan pada Saluran Bronkial
Pada orang asthma saluran bronchial menjadi sangat sensitive terhadap berbagai iritan (bahan pengiritasi) termasuk infeksi, udara dingin, udara panas, stres dan alergi baik makanan, debu, bulu binatang maupun pollen (serbuk sari).






Berikut ini adalah daftar bahan-bahan yang dapat memicu serangan asthma:






Berikut ini adalah beberapa allergen yang memicu serangan asthma pada anak-anak:






Pembuntuan Jalan Nafas yang Reversibel
Sebagai konsekuensi klinis dari adanya inflamasi jalan nafas dan tingginya kepekaan jalan napas terhadap berbagai pencetus maka akan timbul obstruksi bronkial yang reversibel.
Diagnosis Asthma Bronkiale
Diagnosis asthma ditegakkan berdasarkan histori (riwayat penyakit) dan pemeriksaan klinis.
Histori (Riwayat Penyakit)
Pada histori ditanyakan riwayat alergi pada pasien dan keluarganya. Kemudian ditanyakan (what, who, where, when, dan how) apakah pernah ada serangan seperti ini? Serangan pada waktu sore atau malam? Sehabis makan apa? Seberapa sering? Di mana biasanya serangan muncul? Di rumah, di tempat kerja ataukah di ladang?
Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan fisik sangat penting untuk menegakkan diagnosis asthma. Pemeriksaan didasarkan pada symptom dan sign. Symptom adalah gejala yang merupakan keluhan pasien seperti batuk, sesak napas dan sebagainya. Sedangkan sign adalah tanda yaitu temuan dari pemeriksaan dokter seperti wheezing, ekspirasi memanjang, napas cepat (> 20 kali/menit pada dewasa), prominensi otot sternocleidomastoideus dan sebagainya.







Penatalaksanaan
Penatalaksanaan asthma dibagi 2 yaitu penanganan pada serangan asthma akut dan manajemen penanganan asthma stabil.
Terapi Serangan Akut
Bronkodilator yaitu obat-obat yang menyebabkan relaksasi otot polos bronkus  seperti golongan ß agonis seperti salbutamol, terbutalin dan ipratropium bromide. Untuk yang terakhir ini (ipratropium bromide) memiliki beberapa keunggulan selain sebagai bronkodilator ia dapat menurunkan angka hospitaisasi pasien. Salbutamol dapat diberikan secara nebulizer (diuapkan) yaitu 2,5-5 mg salbutamol dalam 2,5 ml normal salin. Bronkodilator selain ß agonis adalah golongan teofilin seperti aminofilin dapat diberikan secara bolus intravena dengan pelan (jangan kurang dari 10 menit) atau dalam drip infusan Dekstrosa 5%.






Kemudian terapi oksigenasi untuk membantu pernapasan. Penyebab kematian pada asthma adalah gagal napas sekunder akibat hipoksia. Oksigenasi menggunakan slang masker agar saturasi O2 bisa mencapai lebih dari 90%.
Kemudian terapi kortikosteroid sebagai anti-inflamasi. Bisa diberikan prednison per-oral atau metilprednisolon dalam injeksi intravena. Dosis hendaknya diindividualisasi pada setiap pasien. Dapat juga dicoba kortikosteroid inhalasi yaitu beclometasone dipropionate.
Dapat pula diberikan kromolin sebagai stabilisasi membran Mast-Cell, sebuah sel yang berperan pada reaksi alergi.
Untuk keluhan batuk diberikan golongan mukolitik (pemecah lendir mukus) seperti bromheksin, ambroksol dan asetil-sistein. Ini sangat bagus pada kasus obstruksi jalan nafas karena di antara sebab kematian pasien asthma adalah adanya pembuntuan oleh mucous yang mengental pada saluran bronkial.







Manajemen Penanganan Asthma yang Stabil
Ini melibatkan berbagai disiplin ilmu dan ahli: dokter sebagai klinisi, perawat spesialis asthma, ahli fisioterapi, ahli farmasi, dietician untuk menentukan alergi makanan, badan penanggulangan rokok dan dampaknya (kayaknya di Indonesia masih belum ada).












Edukasi Penderita
Pasien hendaknya diberitahukan bagaimana dirinya bisa menangani dan meminimalisasi penyakitnya. Minimal diberitahu tentang:
  1. Cara penggunaan obat inhalasi yang benar
  2. Kepatuhan pada obat yang diresepkan
  3. Menghindari faktor pencetus dan alergen
  4. Kemampuannya menggunakan alat pengukur (peak flow meter) untuk memonitor penyakitnya
  5.  
 


Semoga tulisan ini bermanfaat. Amien.
Buku bacaan:
  1. Atlas of Farmacology
  2. Atlas of Pathophysiology
  3. Asthma: Atlas of Investigation


Pekerjaan Yang Membahayakan Paru-paru
Setiap pekerjaan memiliki risiko tersendiri termasuk dalam hal kesehatan paru-paru. Tapi ada 10 pekerjaan yang bisa berisiko dan membahayakan kesehatan paru-paru.
â€&lsqauo;
"Sebagian besar jenis penyakit paru-paru akibat pekerjaan bisa dicegah, langkah-langkah sederhana dalam pengendalian bisa mengurangi paparan dan juga risiko," ujar Philip Harber, MD, profesor dan kepala UCLA Occupational and Environmental Medicine Division, seperti dikutip dari Health.
â€&lsqauo;







Berikut ini 10 bidang pekerjaan yang dapat berisiko bagi kesehatan paru-paru seseorang yaitu:
Konstruksi
Pekerja bisa menghirup debu dari kegiatan pembongkaran atau renovasi yang berisiko terkena kanker paru-paru, mesothelioma dan asbestos, yaitu suatu penyakit yang menyebabkan jaringan parut dan kaku di paru-paru. Untuk itu diperlukan pakaian pelindung termasuk respirator (masker khusus) saat bekerja di sekitar bangunan dan menghindari rokok.
Manufaktur
Pekerja pabrik bisa terkena debu, bahan kimia dan juga gas yang dapat meningkatkan risiko PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik). Bahan kimia tertentu seperti perasa diacetyl yang digunakan dalam microwave popcorn, pabrik anggur dan makanan bisa menyebabkan penyakit yang merusak yaitu bronchiolitis obliterans. Langkah sederhana seperti memakai masker saat menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya bisa mengurangi risiko.
Petugas kesehatan
Diperkirakan sekitar 8-12 persen petugas kesehatan sangat sensitif dengan bubuk yang ada pada sarung tangan lateks, sehingga bisa menyebabkan reaksi asma berat atau memicu timbulnya alergi.
Tekstil
Byssinosis atau dikenal dengan nama penyakit paru-paru coklat adalah kondisi yang umum diantara pekerja tekstil yang membuat jok, handuk, kaus kaki, seprai dan pakaian. Ketika kapas dipisahkan akan menciptakan sejumlah debu yang menyebabkan kerusakan aliran udara yang signifikan, partikel ini juga ada dari bahan lain. Untuk menguranginya gunakan masker, meningkatkan ventilasi udara dan menghindari rokok.
Bartender
Melayani minuman di sebuah ruangan yang penuh asap rokok menempatkan bartender berisiko tinggi terhadap penyakit paru-paru, terutama jika secara teratur terpapar dan menjadi perokok pasif bertahun-tahun.
Pekerja pabrik roti
Pekerjaan ini bisa memicu asma karena berisiko terkena debu tepung yang sangat signifikan mengembangkan sensitisasi alergi. Hal umum lainnya adalah reaksi asma untuk enzim yang digunakan dalam mengubah adonan, serta alergen lain yang sering ditemukan pada tepung.
Industri otomotif
Pekerja otomotif khususnya bagian yang memperbaiki body mobil sangat berisiko mengalami asma. Hal ini karena produk cat semprot seperti isocyanate dan polyurethane bisa menimbulkan iritasi kulit, alergi, sesak napas dan menyebabkan kesulitan bernapas yang parah. Penggunaan respirator, sarung tangan, kacamata dan ventilasi yang baik dapat sangat membantu.
Pekerja transportasi
Supir truk, angkutan umum dan orang-orang yang bertugas di bagian bongkar muat berisiko terkena PPOK. Kondisi ini akibat seringnya terkena polusi udara dari kendaraan bermotor terutama knalpot diesel.
Pertambangan
Para penambang berisiko tinggi terhadap sejumlah penyakit paru-paru seperti PPOK (akibat paparan debu) dan juga silicosis (penyakit bekas luka di paru-paru akibat airbone silica). Sedangkan penambang batu bara berisiko terkena penyakit paru yang disebut pneumokoniosis (paru-paru hitam). Penyakit ini merupakan investasi jangka panjang, karenanya penggunaan masker yang bisa menyaring debu dengan baik bisa membantu.
Petugas pemadam kebakaran
Petugas pemadam kebakaran berisiko menghirup asap dan berbagai bahan kimia yang mungkin ada di dalam gedung yang terbakar. Paparan bahan beracun dan asbes adalah risiko yang sering terjadi setelah api padam. Untuk itu alat pelindung pernapasan harus selalu digunakan pada semua tahap pemadaman kebarakan, termasuk saat petugas menyisir puing-puing untuk memastikan api tidak menyala lagi.















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda
terimakasih telah berkunjung ke blog saya :)
semoga bermanfaat :)